JOMBANG,TelusuR.ID — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), suasana Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, semakin semarak. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, pesantren bersejarah itu kini menjadi ruang bagi seniman lokal untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik.
Salah satu yang menarik perhatian adalah pameran lukisan para muasis atau pendiri NU yang digelar di teras Ribath Al Lathifiyah 2 Al Wahabiyah 1 atau Ndhalem Bu Nyai Mundjidah Wahab.
Deretan lukisan menampilkan wajah dan sosok para ulama yang memiliki peran penting dalam perjalanan NU sekaligus sejarah bangsa Indonesia. Goresan para perupa asal Jombang itu mencoba menghadirkan kembali karakter dan keteladanan para kiai yang menjadi bagian dari sejarah panjang organisasi tersebut.
Pameran itu turut mendapat perhatian Anggota MPR/DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia. Ia datang langsung meninjau galeri tersebut pada Selasa (25/8/2026).
Ning Lia mengapresiasi karya para seniman lokal yang dinilainya tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa pesan sejarah.
Menurutnya, lukisan para pendiri NU dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali perjuangan para ulama kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Bukan sekadar lukisan, tetapi juga menunjukkan sebuah perjuangan dari para muasis NU. Mereka bukan hanya pendiri NU, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan Indonesia sehingga kemudian Indonesia bisa merdeka,” kata Ning Lia.

Lukisan Jadi Cara Merawat Ingatan Sejarah
Ning Lia menilai keberadaan galeri tersebut memiliki arti penting di tengah momentum Muktamar ke-35 NU. Para pengunjung tidak hanya disuguhi kegiatan organisasi, tetapi juga diajak melihat sejarah melalui medium seni.
Menurut dia, setiap lukisan menyimpan cerita mengenai perjalanan panjang para ulama dan kiai. Perjuangan mereka tidak hanya berkaitan dengan berdirinya NU, tetapi juga bersinggungan dengan perjalanan bangsa menuju kemerdekaan dan kehidupan bernegara.
Karena itu, seni dinilai dapat menjadi pendekatan yang lebih dekat untuk menyampaikan sejarah kepada generasi muda.
“Jadi ini adalah media edukasi yang sangat kreatif. Dengan seni, perjuangan para muasis NU bisa dikenalkan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Bagi Ning Lia, cara tersebut menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif agar sejarah perjuangan para ulama tidak berhenti di buku-buku atau cerita lisan.
Karya Seniman Jombang Akan Dilelang
Selain dipamerkan, sejumlah lukisan tersebut juga dijadwalkan dilelang melalui mekanisme open bidding. Skema itu memungkinkan kolektor maupun masyarakat yang tertarik memiliki karya tersebut untuk mendapatkannya melalui proses lelang terbuka.
Ning Lia menyebut langkah tersebut menjadi kesempatan bagi para perupa Jombang untuk memperluas apresiasi terhadap karya mereka.
“Kita juga melihat para pelukis dari Jombang. Ada beberapa lukisan yang dilakukan open bidding atau akan dilelang,” katanya.
Keterlibatan seniman lokal menjadi salah satu sisi menarik dari rangkaian penyambutan Muktamar ke-35 NU. Hajatan besar tersebut tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga membuka panggung bagi potensi budaya dan kreativitas masyarakat Jombang.
Bagi para seniman, momentum kedatangan ribuan muktamirin dari berbagai daerah menjadi kesempatan memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas.
Pesantren, Seni, dan Sejarah Bertemu
Pameran lukisan tersebut sekaligus mempertemukan tiga unsur yang selama ini lekat dengan Jombang: pesantren, sejarah, dan kebudayaan.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan berbagai agenda Muktamar ke-35 NU. Ruang-ruang di dalamnya juga dimanfaatkan untuk menyambut para tamu dengan karya kreatif masyarakat setempat.
Kehadiran galeri lukisan para muasis NU membuat suasana menjelang muktamar semakin berwarna. Para muktamirin nantinya tidak hanya datang untuk mengikuti agenda organisasi, tetapi juga dapat menyaksikan jejak sejarah NU yang diterjemahkan melalui karya seni.
Ning Lia berharap pameran tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga warisan sejarah sekaligus memberikan ruang lebih luas bagi seniman lokal.
“Ini bentuk penghormatan sekaligus cara kita merawat ingatan atas jasa para kiai,” ujarnya.
Dengan begitu, Muktamar ke-35 NU tidak hanya meninggalkan catatan tentang keputusan dan dinamika organisasi. Di tengah riuhnya agenda muktamar, wajah para pendiri NU juga kembali dihadirkan melalui kanvas—sebagai pengingat bahwa perjalanan NU dan bangsa Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang para ulama.
Dan di Tambakberas, sejarah itu kini tidak hanya diceritakan. Ia dipajang, dilihat, dan dihidupkan kembali melalui karya para seniman Jombang.