Jacob Ereste: Soto dan Pindang Kerbau di Kudus, Sebuah Penghormatan Budaya kepada Kesakralan Sapi

Bagikan :

Jacob Ereste:

Soto dan Pindang Kerbau di Kudus, Sebuah Penghormatan Budaya kepada Kesakralan Sapi

KUDUS, TelusuR.ID — Ada kalanya makanan tidak sekadar menjadi urusan selera. Ia bisa menjadi jejak sejarah, tanda penghormatan, bahkan bahasa kebudayaan yang diam-diam menyatukan perbedaan.

Soto dan pindang kerbau di Kudus, misalnya, tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas. Di baliknya tersimpan sebuah pesan kebudayaan tentang bagaimana masyarakat menjaga harmoni kehidupan bersama, termasuk melalui penghormatan terhadap keyakinan dan tradisi umat lain.

Pesan semacam itulah yang terasa kuat dalam Gebyar Budaya Nusantara yang diselenggarakan para aktivis budaya di Majesty Grand Ballroom Hotel Griptha, Kudus, Selasa, 11 Agustus 2026.

Pertemuan budaya ini seperti hendak membangun sebuah “Rumah Budaya”—sebuah ruang bersama tempat para aktivis budaya dari 17 kabupaten dan kota di Jawa Tengah dapat bernaung, bertukar pikiran, serta mengembangkan kekayaan budaya daerah sebagai fondasi kebudayaan nasional.

Sebab kebudayaan tidak semestinya berhenti sebagai kenangan tentang masa silam. Kebudayaan justru harus menjadi tenaga hidup yang mampu menuntun masa depan bangsa agar tetap memiliki jati diri ketika harus bersanding dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sri Eko Sriyanto Galgendu, tokoh spiritual Indonesia yang hadir dalam perhelatan tersebut, melihat Gebyar Budaya Nusantara di Kudus sebagai semacam pesamuan agung “Raja Wali”—perjumpaan antara nilai-nilai kerajaan dan kewalian yang tumbuh dari kawasan pesisir utara Pulau Jawa.

Kudus dan wilayah sekitarnya memang bukan ruang sejarah yang kosong. Di tanah para wali ini, jejak dakwah, kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat telah lama berkelindan menjadi satu kesatuan yang unik.

Karena itu, gagasan membangun “Rumah Budaya” di setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah menjadi penting. Bukan sekadar rumah dalam pengertian bangunan fisik, tetapi rumah kesadaran bersama untuk merawat seni, tradisi, bahasa, kerajinan, kuliner, serta seluruh kekayaan lokal agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Dari sanalah budaya daerah dapat tumbuh menjadi kekuatan budaya nasional yang tidak sektarian. Setiap daerah boleh memiliki kekhasannya sendiri, tetapi tetap berada dalam satu kesadaran kebangsaan yang sama.

Sebab yang lokal tidak harus dipertentangkan dengan yang nasional. Justru dari keragaman lokal itulah kebudayaan Indonesia memperoleh kekayaan dan keunikannya.

Gebyar Budaya Nusantara kemudian dihidupkan melalui berbagai tarian yang membawa narasi mitologi Jawa. Di tengah rangkaian acara tersebut, panitia menyerahkan buku Ensiklopedi Sunan Kalijaga, sementara Sri Eko Sriyanto Galgendu memberikan Kitab MA HA IS MA YA kepada sejumlah tokoh dan pejabat Kabupaten Kudus.

Pemukulan gong menjadi penanda dibukanya acara secara resmi.

Namun yang lebih penting dari seremoni itu adalah ikrar kesadaran yang dibangun bersama: bahwa menjaga dan mengembangkan kebudayaan bukan sekadar pekerjaan para seniman atau aktivis budaya.

Ia adalah bagian dari dharma bakti kepada bangsa dan negara.

Budaya dan spiritualitas dapat menjadi jalan untuk membentuk karakter anak bangsa. Sebab pendidikan karakter yang kehilangan akar budaya sering kali mudah tercerabut dari lingkungan sosialnya sendiri.

Soto Kerbau dan Ingatan tentang Toleransi

Usai Gebyar Budaya Nusantara, malam belum segera berakhir.

Sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) menikmati Soto Kerbau yang khas di Kudus, kota yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat sejarah kewalian di Jawa Tengah.

Dari meja makan, percakapan kemudian berlanjut ke Kadilangu, Demak. Di sana mereka menyambangi kediaman Eyang RM Bambang Soeryadhi Soeryodhoharjo yang kini disebut telah berusia 116 tahun.

Dialog bersama Eyang Kakung berlangsung santai, tetapi menyimpan banyak pengalaman dan ingatan panjang tentang kehidupan. Berbagai persoalan menjadi bahan perbincangan hingga malam semakin larut.

Ketika kembali ke Hotel Griptha dan waktu telah melewati tengah malam, perjalanan belum juga benar-benar selesai.

Sahabat dan kerabat GMRI masih menyempatkan diri menyambangi Pesanggrahan Tri Utomo, sebuah ruang yang dirawat sebagai bagian dari upaya melestarikan konstruksi dan seni arsitektur khas Jawa sekaligus menjadi ruang perjumpaan Forum Lintas Agama di Kudus dan sekitarnya.

Di tempat semacam inilah kerukunan tidak hanya dibicarakan, tetapi diupayakan melalui perjumpaan.

Para tokoh agama dapat duduk bersama. Berbagai persoalan masyarakat dibicarakan sebelum berkembang menjadi gesekan. Perbedaan tidak selalu harus menjadi sumber pertentangan, karena dengan saling mengenal, memahami dan menghormati, banyak persoalan dapat diselesaikan secara lebih manusiawi.

Dan di Kudus, toleransi itu seolah menemukan salah satu bentuknya melalui sesuatu yang sangat sederhana: apa yang dimakan dan apa yang tidak dimakan.

Masyarakat Kudus memiliki tradisi kuliner yang sangat dikenal, yakni soto dan pindang berbahan daging kerbau.

Di balik pilihan tersebut terdapat kisah dan ingatan budaya yang sering dikaitkan dengan penghormatan terhadap sapi, terutama dalam konteks penghormatan kepada umat Hindu yang memandang sapi sebagai hewan yang suci dan memiliki kedudukan sakral.

Karena itu, tidak menyembelih sapi untuk dikonsumsi dagingnya kemudian menjadi semacam simbol kearifan lokal yang tumbuh dari kesadaran untuk menghormati keyakinan yang berbeda.

Apakah benar tradisi itu hanya soal makanan?

Tentu tidak sesederhana itu.

Ia adalah simbol bahwa toleransi dapat hadir dalam perkara yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan sepiring soto pun dapat menyimpan pesan tentang bagaimana sebuah masyarakat belajar menghormati keyakinan orang lain.

Di sinilah kebudayaan menemukan maknanya yang paling dalam.

Bukan sekadar tarian, pakaian adat, arsitektur, kitab, atau kuliner. Kebudayaan adalah cara manusia belajar hidup bersama.

Maka Soto dan Pindang Kerbau di Kudus pada akhirnya bukan hanya warisan cita rasa. Ia dapat dibaca sebagai salah satu perlambang kearifan lokal tentang toleransi, penghormatan dan kerukunan antarumat beragama.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang menghapus perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghormati.

Dan mungkin, dari sepiring soto kerbau di Kota Wali itu, kita kembali diingatkan: bahwa jalan menuju Indonesia yang damai tidak selalu harus dimulai dari pidato besar.

Kadang ia bermula dari sebuah kebiasaan sederhana—menghormati apa yang dianggap suci oleh sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version