Jacob Ereste: Kesadaran Spiritual Denny JA Menginvestasikan Miliaran Dana Pribadi untuk Membangun Budaya Bangsa Indonesia

Bagikan :

Jacob Ereste:

Kesadaran Spiritual Denny JA Menginvestasikan Miliaran Dana Pribadi untuk Membangun Budaya Bangsa Indonesia

Purwodadi,TelusuR.ID – Sungguh, saya merasa tersentuh membaca sekaligus merenungkan paparan Denny Januar Ali tentang “Model Organisasi Penulis Indonesia yang Bisa Hidup 100 Tahun”, yang ia sebut sebagai sebuah “provokasi” untuk menyambut Kongres Satupena 2026.

Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gagasan tentang bagaimana sebuah organisasi penulis dapat bertahan melewati pergantian zaman. Ada kesadaran spiritual yang menarik untuk dicermati: kesediaan menginvestasikan miliaran rupiah dari dana pribadi untuk menghidupkan kegiatan seni, sastra dan kebudayaan, tanpa harus selalu menghitung kembali apa yang telah diberikan dan apa yang akan diterima.

Di tengah kehidupan bangsa yang semakin digiring oleh ukuran material, langkah semacam ini terasa semakin langka. Kapitalisme telah mengubah banyak hal menjadi angka, keuntungan dan transaksi. Bahkan kebudayaan pun acap kali dipaksa mengikuti hukum pasar. Karena itu, ketika seseorang justru mengalokasikan sumber daya pribadinya untuk memberi ruang tumbuh bagi penulis, penyair, seniman dan budayawan, tindakan tersebut layak dibaca bukan sekadar sebagai kegiatan filantropi, melainkan sebagai bentuk investasi peradaban.

Melalui Denny JA Foundation, berbagai kegiatan kebudayaan telah digerakkan. Panggung diberikan, buku diterbitkan, karya diapresiasi, dan para penulis memperoleh ruang untuk terus berkarya. Dalam konteks inilah saya melihat kontribusi Denny JA bukan semata-mata sebagai bantuan kepada para penulis, melainkan sebagai usaha menjaga agar kebudayaan tetap memiliki tempat di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin pragmatis.

Namun justru karena itu pula, pengakuan Denny JA menjadi menarik untuk direnungkan.

Ia mengatakan, “Saya berhasil menggerakkan kegiatan, tetapi belum selesai membangun institusi. Saya mewariskan pergerakan, tetapi belum mewariskan rumah.”

Kalimat tersebut menurut saya memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar pengakuan pribadi. Sebab, menggerakkan kegiatan relatif lebih mudah daripada membangun institusi yang mampu bertahan ketika sosok penggeraknya sudah tidak lagi berada di dalamnya.

Pergerakan membutuhkan energi seorang manusia. Tetapi institusi membutuhkan sistem, tradisi, regenerasi dan kesadaran bersama.

Di sinilah gagasan tentang strong leader dalam organisasi penulis Indonesia menjadi relevan untuk direnungkan. Seorang pemimpin yang kuat tentu dibutuhkan, terlebih ketika organisasi sedang membangun fondasi. Tetapi kekuatan seorang pemimpin idealnya tidak membuat organisasi semakin tergantung kepada dirinya.

Sebaliknya, setiap tambahan masa kepemimpinan semestinya semakin memperkuat sistem, bukan mempertinggi ketergantungan.

Bila selama ini Denny JA meniupkan napas kehidupan bagi Satupena melalui berbagai kegiatan kebudayaan, penerbitan, sastra dan pemberian panggung kepada para penulis, maka tahap berikutnya adalah bagaimana seluruh energi tersebut dapat menjadi rumah yang dapat dihuni bersama.

Rumah itu tidak harus berupa bangunan fisik.

Rumah kebudayaan adalah ruang tempat gagasan mendapatkan perlindungan, karya mendapatkan penghargaan, dan para pekerja kebudayaan tidak merasa sendirian menghadapi zaman.

Satupena telah memperlihatkan bagaimana penulis dari berbagai daerah dapat dipertemukan. Para penyair, penulis esai dan pekerja kebudayaan yang selama ini berserakan mulai memiliki ruang untuk saling mengenal, bertukar pikiran dan melahirkan karya. Dalam suasana ketika hoaks dan kebisingan informasi semakin memenuhi ruang digital, karya sastra dan pemikiran yang sehat justru dapat menjadi semacam cahaya penuntun agar masyarakat tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir dan merenung.

Tentu tidak semua orang dapat memperoleh kesempatan dan fasilitas pada waktu yang bersamaan. Ada antrean, ada prioritas dan ada keterbatasan sumber daya. Mereka yang belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkan dukungan tidak harus berkecil hati.

Sebab kerja kebudayaan memang membutuhkan kesabaran yang panjang.

Yang penting adalah adanya keyakinan bahwa ruang untuk berkarya terus diperluas dan kesempatan terus dibuka.

Dan pada titik ini, kontribusi Denny JA Foundation memang patut dicatat sebagai fenomena tersendiri dalam perjalanan kebudayaan Indonesia kontemporer.

Bukan hanya karena besarnya dana yang digelontorkan, tetapi terutama karena keberanian menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang layak diinvestasikan.

Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun dengan jalan, gedung, teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Bangsa juga dibangun oleh gagasan, imajinasi, sastra, seni, ingatan sejarah dan keberanian manusia untuk bertanya tentang makna kehidupan.

Karena itu, dukungan kepada seniman dan budayawan tidak semestinya berhenti pada penghargaan atau seremoni. Mereka juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan mereka tetap hidup dari karya dan terus berkarya.

Bahkan, ke depan, bukan tidak mungkin dukungan itu berkembang menjadi bentuk insentif yang lebih nyata untuk meringankan beban kehidupan para seniman dan budayawan. Sebab terlalu banyak pekerja kebudayaan yang akhirnya harus meninggalkan meja kerja kreatifnya demi mencari penghasilan tambahan.

Ketika seorang penyair harus meninggalkan puisinya untuk berdagang, ketika seorang penulis harus menghentikan bukunya karena kebutuhan ekonomi, atau ketika seorang seniman kehilangan waktu untuk berkarya karena harus mengejar pekerjaan lain, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya orang tersebut.

Kebudayaan bangsa juga ikut kehilangan.

Karena itu, lima tahun pertama perjalanan Satupena yang telah ditopang oleh berbagai kegiatan kebudayaan patut dilihat sebagai sebuah awal. Terutama dalam mengangkat kembali marwah penulis, termasuk para penggiat puisi esai yang kemudian menjadi salah satu ciri penting dari gerakan kebudayaan yang dibangun Denny JA Foundation.

Yang menarik bagi saya bukan semata-mata siapa yang membiayai, berapa besar yang diberikan, atau berapa banyak kegiatan yang telah dilaksanakan.

Yang jauh lebih penting adalah untuk apa semua itu dilakukan.

Jika dana pribadi digunakan untuk membangun ruang bagi kebudayaan, maka sesungguhnya yang sedang diinvestasikan bukan hanya uang.

Yang sedang ditanam adalah waktu, gagasan, keberanian dan kemungkinan masa depan.

Dan investasi semacam ini mungkin tidak segera menghasilkan keuntungan yang dapat dihitung dengan kalkulator. Tetapi hasilnya dapat tumbuh jauh lebih lama: dalam bentuk buku yang dibaca generasi berikutnya, puisi yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan, gagasan yang menumbuhkan kesadaran, serta kebudayaan yang membuat Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Barangkali inilah makna terdalam dari kesadaran spiritual dalam membangun kebudayaan.

Memberi tanpa harus selalu menuntut kembali.

Membangun tanpa harus selalu menuntut nama.

Dan menanam sesuatu yang mungkin baru akan dipetik oleh generasi yang belum lahir.

Jika Satupena hendak hidup seratus tahun, maka pekerjaan terbesarnya bukan sekadar mempertahankan organisasi.

Pekerjaan terbesarnya adalah memastikan bahwa setelah para pendirinya pergi, rumah itu tetap berdiri, pintunya tetap terbuka, dan lampu kebudayaan di dalamnya tidak pernah padam.

Purwodadi, 12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version