Jacob Ereste: Dialog Spiritual Ala Sufi Bersama Batin dan Jiwa Sendiri, Sungguh Tak Penting Diketahui Orang Lain
Banten,TelusuR.ID — Ketika doa telah dikirimkan ke langit, pernahkah terpikir: Tuhan sedang berada di mana?
Pertanyaan ini mungkin terdengar naif bagi sebagian orang. Tetapi bagi mereka yang bersedia memasuki lorong permenungan, pertanyaan tersebut justru dapat menjadi pintu menuju kesadaran spiritual yang lebih luas. Sebab doa dan Tuhan bukan sekadar perkara sakral yang harus dijauhkan dari akal sehat. Keduanya juga menyentuh wilayah rasionalitas manusia, sejauh rasionalitas itu tidak merasa dirinya paling berkuasa untuk menjelaskan seluruh rahasia kehidupan.
Doa tidak pernah membutuhkan pengakuan dari manusia lain. Ia tidak memerlukan tepuk tangan, dokumentasi, publikasi, apalagi kesaksian orang banyak. Doa adalah percakapan paling pribadi antara manusia dengan Tuhan. Karena itu, ketika doa mulai dipertontonkan demi memperoleh legitimasi sosial, ada sesuatu yang diam-diam telah bergeser: spiritualitas berubah menjadi pertunjukan.
Tuhan sesungguhnya tidak perlu dicari terlalu jauh. Ia justru berada di ruang batin yang selama ini jarang kita masuki. Hati manusia adalah samudra yang jauh lebih dalam daripada kemampuan dirinya sendiri untuk menyelaminya.
Di sana terdapat rasa takut, harapan, penyesalan, kesombongan, kasih sayang, sekaligus kesadaran tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas.
Karena itu, doa syukur semestinya memperoleh tempat yang lebih utama daripada doa permintaan. Sebab terlalu sering manusia mendatangi Tuhan hanya ketika membutuhkan sesuatu. Tuhan dijadikan tempat mengadu ketika kepentingan duniawi terancam, tetapi dilupakan ketika kenikmatan telah berada di tangan.
Padahal bersyukur adalah bentuk kesadaran bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah sepenuhnya memiliki apa pun.
Rumah, jabatan, kekuasaan, kekayaan, popularitas, bahkan tubuh dan umur yang kita banggakan, semuanya hanya titipan. Tetapi manusia modern sering berperilaku seolah-olah dirinya adalah pemilik tunggal kehidupan.
Dari sinilah kegelisahan bermula.
Dialog spiritual dengan diri sendiri sesungguhnya tidak memerlukan panggung. Ia berlangsung sunyi. Bahkan tidak membutuhkan saksi. Dalam kesunyian itulah batin perlahan terbebaskan dari kecemasan, ketakutan dan berbagai tekanan yang diciptakan oleh dunia sosial.
Manusia yang mampu berdialog dengan dirinya sendiri tidak mudah dikendalikan oleh ketakutan.
Ia tidak mudah tunduk kepada intimidasi. Tidak gampang silau oleh kekuasaan. Dan tidak pula harus kehilangan kemerdekaan batinnya hanya karena berhadapan dengan mereka yang merasa mempunyai kuasa atas orang lain.
Penguasa yang zalim, pada akhirnya, harus berhadapan dengan akibat dari kezalimannya sendiri. Kekuasaan mungkin mampu membungkam suara manusia untuk sementara waktu, tetapi tidak pernah mampu membungkam hukum moral yang bekerja dalam kehidupan.
Karena itu, mengapa manusia harus terus-menerus hidup dalam ketakutan kepada mereka yang kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri?
Bukankah kekuasaan yang digunakan untuk menindas justru sedang menyiapkan kubangan bagi dirinya sendiri?
Bahkan dalam keyakinan spiritual tertentu, dosa kekuasaan tidak berhenti pada pelakunya. Jejak keburukan dapat diwariskan sebagai stigma sosial, luka sejarah, bahkan beban moral yang harus dipikul oleh anak-cucu. Bukan karena kesalahan itu secara otomatis diwariskan secara biologis, melainkan karena sejarah keluarga dan masyarakat menyimpan ingatan atas perilaku manusia.
Di sinilah permenungan spiritual menemukan hubungan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sosial dan kebudayaan.
Spiritualitas bukan pelarian dari dunia. Ia justru seharusnya menjadi cermin untuk melihat dunia secara lebih jernih.
Doa, mantra, zikir dan berbagai ekspresi spiritual tidak semestinya berhenti sebagai rangkaian bunyi yang diulang-ulang tanpa kesadaran. Di balik kata-kata tersebut terdapat sikap batin: pengakuan manusia atas keterbatasan dirinya dan kesediaan untuk tunduk kepada sesuatu yang lebih besar daripada ego pribadi.
Doa yang hanya keluar dari bibir, tetapi tidak pernah menyentuh perilaku, tidak lebih dari bunyi yang kehilangan makna.
Begitu pula mantra yang hanya dilantunkan sebagai formalitas kebudayaan, tanpa kesadaran spiritual yang menyertainya, mudah berubah menjadi ornamen. Padahal ekspresi spiritual semestinya mampu mempertemukan kebudayaan dengan kedalaman batin manusia.
Di sinilah persoalan besar kehidupan beragama dan berkebudayaan kita hari ini.
Kita terlalu sering sibuk dengan bentuk, tetapi lupa pada substansi.
Kita gemar memperlihatkan kesalehan, tetapi belum tentu bersedia mengoreksi keserakahan. Kita rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi masih mudah merendahkan manusia lain. Kita lantang menyerukan moralitas, tetapi diam ketika ketidakadilan berlangsung di depan mata.
Maka spiritualitas yang tidak melahirkan etika sosial patut dipertanyakan.
Sebab perjalanan spiritual seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin angkuh. Semakin berbelas kasih, bukan semakin gemar menghakimi. Semakin merdeka, bukan semakin suka menindas.
Tuhan tidak menjadi lebih besar karena manusia berteriak lebih keras dalam berdoa. Tuhan juga tidak menjadi lebih dekat karena doa seseorang dipertontonkan kepada publik.
Yang berubah justru manusianya.
Doa yang sungguh-sungguh mestinya mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Dari merasa memiliki menjadi menyadari bahwa dirinya hanya dititipi. Dari merasa paling benar menjadi bersedia mendengar. Dari gemar menuntut menjadi belajar bersyukur. Dari takut kepada manusia menjadi berani mempertahankan kebenaran.
Mungkin karena itu, dialog spiritual ala kaum sufi bersama batin dan jiwa sendiri memang tidak penting diketahui orang lain.
Ia tidak membutuhkan penonton.
Tidak membutuhkan pengakuan.
Tidak membutuhkan panggung.
Yang diperlukan hanyalah kejujuran.
Catatan tentang pengalaman spiritual tetap penting dibuat, bukan untuk dipamerkan, melainkan sebagai pengingat bagi diri sendiri. Sebab ingatan manusia semakin renta. Kesadaran yang hari ini terasa terang, besok dapat kembali tertutup oleh kesibukan, ambisi, kepentingan dan kegaduhan dunia.
Catatan itu menjadi semacam penanda perjalanan: agar ketika suatu hari kembali dilanda kegelisahan, manusia masih memiliki jalan untuk pulang ke dalam dirinya sendiri.
Sebab perjalanan spiritual tidak pernah benar-benar selesai.
Ia terus berlangsung sepanjang manusia masih bernapas, hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat yang paling sunyi: pemakaman.
Di sana semua atribut sosial kehilangan arti.
Jabatan ditinggalkan.
Kekayaan tidak ikut dikuburkan.
Popularitas tidak mempunyai suara.
Yang tersisa hanyalah manusia dan pertanggungjawaban dirinya di hadapan Tuhan.
Maka sebelum sampai ke sana, barangkali ada baiknya manusia belajar kembali melakukan perjalanan yang paling dekat sekaligus paling sulit: masuk ke dalam dirinya sendiri.
Berdialog dengan batinnya.
Mendengar suara nuraninya.
Dan berdoa tanpa perlu diketahui siapa pun.
Sebab mungkin, dalam kesunyian itulah Tuhan justru terasa paling dekat.
Banten, 29 Agustus 2026
