Gus Kikin Pulang ke Akar NU: Terima Tasbih dan Tongkat Mbah Hasyim, Lalu Ziarah ke Makam Pendiri NU

Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.ID — Setelah terpilih memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin tidak memulai langkah pertamanya dengan agenda organisasi.

Ia pulang ke Tebuireng.

Di pesantren yang menjadi salah satu pusat sejarah NU itu, Senin (31/8/2026) siang, Gus Kikin terlebih dahulu menerima tasbih dan tongkat peninggalan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Setelah itu, ia menyapa para santri sebelum berjalan menuju Kompleks Makam Keluarga Tebuireng untuk berziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.

Urutan itu sederhana. Tetapi bagi sebagian kalangan Nahdliyin, menyimpan simbol yang kuat.

Gus Kikin seperti sedang memulai kepemimpinannya dengan kembali kepada akar.

Tasbih dan tongkat peninggalan Mbah Hasyim diserahkan KH Riza Yusuf, cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dalam penyambutan dzuriyah dan para santri Tebuireng.

Setelah menerima dua benda peninggalan tersebut, Gus Kikin kemudian menuju makam Mbah Hasyim dan memanjatkan doa.

Tidak ada panggung kemenangan. Tidak ada pidato politik.

Yang terlihat justru seorang keturunan Mbah Hasyim berdiri di hadapan pusara leluhurnya, setelah menerima mandat untuk memimpin organisasi yang didirikan oleh sang leluhur.

Momen itu membawa pesan tersendiri: sebelum membawa NU menghadapi masa depan, Gus Kikin terlebih dahulu menengok sejarah yang menjadi fondasi organisasi tersebut.

 

Bukan Sekadar Tasbih dan Tongkat

Tasbih dan tongkat Mbah Hasyim mungkin hanya benda peninggalan seorang ulama.

Namun dalam tradisi pesantren, benda yang melekat pada seorang kiai sering kali memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi pengingat atas keteladanan, keilmuan, pengabdian, dan perjuangan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kini, tasbih dan tongkat itu berada di tangan Gus Kikin.

Ia bukan orang yang jauh dari sejarah tersebut. Gus Kikin merupakan dzuriyah KH Hasyim Asy’ari.

Karena itu, penyerahan tersebut mudah dibaca sebagai simbol kesinambungan generasi.

Tetapi kesinambungan itu bukan berarti meneruskan kekuasaan.

Yang lebih penting adalah meneruskan nilai.

Ilmu. Akhlak. Khidmah. Dan keberpihakan kepada umat.

Nilai-nilai yang sejak awal menjadi bagian dari kultur pesantren dan perjalanan Nahdlatul Ulama.

Setelah Menerima Warisan, Gus Kikin Berziarah

Usai menerima tasbih dan tongkat, Gus Kikin tidak langsung masuk ke ndalem kasepuhan Tebuireng.

Ia memilih menuju kompleks makam keluarga.

Di sana, ia berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari.

Pilihan itu memberi warna tersendiri terhadap kepulangan Gus Kikin. Sebab, ia datang ke Tebuireng bukan hanya sebagai keluarga besar pesantren, tetapi juga sebagai Ketua Umum PBNU terpilih yang akan membawa organisasi itu memasuki periode kepemimpinan baru.

Ada sejarah yang diwariskan kepadanya.

Ada organisasi yang harus dipimpinnya.

Dan ada harapan warga Nahdliyin yang menunggu arah baru NU.

Ketiganya bertemu di Tebuireng.

Ketika NU Ingin Kembali ke Akarnya

Keterpilihan Gus Kikin kemudian dibaca sebagian kalangan Nahdliyin sebagai momentum “kembali ke akar”.

Narasi tersebut memang tidak bisa dilepaskan dari garis genealogis Gus Kikin sebagai dzuriyah Mbah Hasyim.

Namun persoalannya bukan sekadar hubungan darah.

Lebih jauh, ada kerinduan terhadap kepemimpinan NU yang dianggap dekat dengan tradisi pesantren dan kehidupan warga Nahdliyin.

Kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki pijakan moral dan keilmuan.

NU hari ini bukan lagi organisasi seperti pada masa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Organisasi ini telah berkembang menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang besar dengan struktur dan persoalan yang semakin kompleks.

Tantangannya pun berubah.

Teknologi mengubah cara generasi muda berinteraksi. Politik menghadirkan dinamika baru. Persoalan sosial bergerak semakin cepat. Sementara warga Nahdliyin membutuhkan organisasi yang tetap dekat dengan kehidupan mereka.

Karena itu, kembali ke akar tidak berarti membawa NU kembali ke masa lalu.

Kembali ke akar berarti memastikan NU tidak kehilangan nilai ketika bergerak menghadapi zaman.

Pesan Mbah Hasyim untuk Masa Depan NU

Setelah berziarah, Gus Kikin menyampaikan pesan kepada para santri Tebuireng.

Ia meminta mereka terus mengaji dan mengamalkan ilmu yang telah diwariskan Mbah Hasyim Asy’ari.

Menurutnya, warisan Mbah Hasyim tidak cukup hanya dipelajari. Ilmu harus diamalkan. Akhlak harus diwujudkan. Dan nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman ketika para santri berkhidmat di NU maupun ketika mengabdi kepada masyarakat.

Pesan itu sekaligus menjadi tantangan bagi kepemimpinannya sendiri.

Sebab, jika Gus Kikin ingin membawa NU kembali ke akar, ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa sering nama Mbah Hasyim disebut.

Ukurannya adalah seberapa jauh nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU hadir dalam keputusan dan arah organisasi.

Memimpin NU dari Akar

Lima tahun ke depan, Gus Kikin akan menghadapi NU dengan wajah zaman yang berbeda.

Ia tidak mungkin memimpin NU dengan cara yang sama seperti Mbah Hasyim memimpin pada masa lalu.

Tetapi ada sesuatu yang tetap bisa diwariskan: cara memandang ilmu, akhlak, khidmah, dan hubungan dengan umat.

Di situlah makna “kembali ke akar” menemukan relevansinya.

Bukan romantisme terhadap masa lalu.

Bukan pula sekadar simbol genealogis.

Melainkan upaya memastikan bahwa semakin besar NU tumbuh, semakin kuat pula pijakan nilai yang menopangnya.

Senin siang di Tebuireng itu akhirnya menjadi semacam pembuka perjalanan baru Gus Kikin.

Ia menerima tasbih dan tongkat peninggalan Mbah Hasyim.

Ia menyapa santri.

Ia berziarah ke makam pendiri NU.

Lalu ia menyampaikan pesan agar ilmu dan akhlak Mbah Hasyim terus diamalkan.

Dari Tebuireng, pesan itu terasa sederhana: NU boleh bergerak ke depan, tetapi jangan pernah lupa dari mana ia berasal.

Sebab, bagi organisasi yang lahir dari pesantren, masa depan tidak harus dibangun dengan meninggalkan akar.

Justru dari akar itulah NU diharapkan kembali menemukan kekuatan untuk menghadapi zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version