JOMBANG,TelusuR.ID — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tinggal 13 hari lagi. Namun, menjelang forum tertinggi organisasi itu digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tensi politik internal mulai memanas.
Sebuah materi yang beredar luas di sejumlah grup WhatsApp memuat pernyataan yang dinisbatkan kepada KH Kafabihi Mahrus Lirboyo. Isinya mengusik persoalan sensitif: dugaan praktik bagi-bagi uang dalam perebutan jabatan di lingkungan kepengurusan PBNU.
Materi tersebut menyebut pernyataan itu berasal dari status WhatsApp pribadi KH Kafabihi Mahrus.
Belum ada kepastian mengenai keaslian dan konteks pernyataan tersebut. Karena itu, Presidium KMNJ, A. Hamdah, meminta warga Nahdliyin tidak buru-buru mempercayai ataupun menyebarluaskan informasi tersebut sebelum ada klarifikasi langsung dari pihak yang bersangkutan.
Namun, Hamdah memberikan peringatan keras.
Jika substansi pernyataan itu benar, menurut dia, persoalannya bukan lagi sekadar dinamika menjelang Muktamar. Ini menyangkut wajah, integritas dan masa depan organisasi yang dibangun para ulama.
“Jika benar apa yang disampaikan oleh KH Kafabihi Mahrus, tentu kami dari KMNJ sangat menyayangkan. Jangan sampai ada unsur pemaksaan, apalagi praktik bagi-bagi uang untuk memengaruhi pilihan dalam proses pemilihan kepemimpinan NU,” kata Hamdah.
Muktamar NU Jangan Berubah Jadi Pasar Transaksi Kekuasaan
Hamdah menegaskan, Muktamar NU bukan arena untuk memperdagangkan suara muktamirin.
Forum tertinggi NU itu semestinya menjadi tempat mempertanggungjawabkan perjalanan organisasi, menyampaikan gagasan, bermusyawarah dan menentukan kepemimpinan berdasarkan kapasitas serta amanah.
Bukan berdasarkan siapa yang paling besar mengeluarkan uang.
“Jangan sampai suara muktamirin dibeli. Jangan sampai pilihan dipaksa. Jangan sampai jabatan diperjuangkan melalui transaksi,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena Muktamar ke-35 tinggal menghitung hari. Dalam situasi seperti ini, isu sekecil apa pun dapat berkembang menjadi bola panas dan memengaruhi persepsi publik terhadap proses suksesi kepemimpinan NU.
Karena itu, Hamdah meminta seluruh pihak menahan diri.
Kalau memang tidak ada transaksi, jangan takut membuka proses secara transparan. Kalau ada dugaan pelanggaran, jangan pula ditutup-tutupi.
Menurut dia, NU justru akan semakin kuat apabila setiap tudingan diuji melalui mekanisme organisasi yang jelas dan terbuka.
Kursi Boleh Diperebutkan, Marwah NU Jangan
Hamdah mengingatkan bahwa perebutan posisi dalam organisasi seharusnya tidak membuat nilai-nilai dasar NU dikorbankan.
NU dibangun melalui pengabdian para ulama, kiai, santri dan masyarakat. Karena itu, jabatan di dalam organisasi bukanlah hadiah, apalagi barang dagangan.
“NU bukan organisasi yang dibangun untuk kepentingan jabatan. NU adalah amanah para ulama. Karena itu, marwah dan muruah NU harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Ia juga meminta para pendukung kandidat tidak mengubah perbedaan pilihan menjadi permusuhan.
Sebab, pemenang Muktamar akan memimpin NU, tetapi persaudaraan Nahdliyin harus tetap hidup setelah Muktamar selesai.
“Beda pilihan itu biasa. Tetapi jangan sampai perbedaan pilihan merusak persaudaraan. Jangan karena kepentingan jabatan sesaat, kita mengorbankan kehormatan organisasi yang telah diwariskan para ulama,” katanya.
KMNJ: Jangan Biarkan Uang Mengalahkan Musyawarah
KMNJ mengajak seluruh Nahdliyin berhati-hati terhadap informasi yang beredar menjelang Muktamar. Materi yang belum terverifikasi tidak seharusnya langsung dipercaya, apalagi dijadikan bahan untuk menyerang kelompok atau kandidat tertentu.
Namun, kehati-hatian juga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan dugaan pelanggaran.
Jika ada indikasi politik uang, tekanan, pemaksaan atau bentuk intervensi lainnya, Hamdah meminta persoalan tersebut disampaikan melalui jalur organisasi dengan membawa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bukan digoreng di media sosial. Bukan diselesaikan lewat perang opini. Dan bukan pula ditutup demi kepentingan kelompok.
“Muktamar harus menjadi momentum konsolidasi dan penguatan jam’iyah, bukan arena pertarungan kepentingan yang meninggalkan luka di antara sesama Nahdliyin,” ujarnya.
Tinggal 13 hari.
Pertarungan gagasan boleh terjadi. Perbedaan pilihan boleh muncul. Kompetisi kepemimpinan adalah bagian dari dinamika organisasi.
Tetapi bagi Hamdah, ada batas yang tidak boleh dilewati:
Jangan beli suara.
Jangan paksa pilihan.
Jangan transaksikan jabatan.
Jangan gadaikan NU.
Sebab, ketika uang mulai menentukan siapa yang memimpin, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang dalam Muktamar.
Pertanyaannya: nilai apa yang sebenarnya sedang dimenangkan?
“Mari kita jaga Muktamar ke-35 NU agar berlangsung bermartabat, demokratis, penuh adab dan sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU.”
Rawat NU. Jaga marwah dan muruah NU. Kuatkan persaudaraan. Sukseskan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
