Jacob Ereste: Materialisme dan Spiritualisme dalam Tradisi Budaya Nusantara yang Kini Bernama Indonesia
Banten,TelusuR.ID – Kualitas sejatinya tidak pernah lahir dari pengakuan diri. Ia hanya dapat dibuktikan melalui manfaat yang dirasakan orang lain. Sebab mutu bukanlah slogan yang bisa diteriakkan, melainkan kenyataan yang diuji oleh waktu, pengalaman, dan penilaian publik. Karena itu, setiap klaim tentang kualitas sesungguhnya baru memperoleh legitimasi ketika mampu menjawab kebutuhan dan memberi makna bagi sesama.
Itulah sebabnya seorang profesor tidak cukup hanya memiliki gelar akademik tertinggi. Yang lebih penting ialah apakah cara berpikirnya, sikap hidupnya, serta kebijaksanaan yang dipancarkannya benar-benar mencerminkan kehormatan dari gelar yang disandangnya. Gelar bukan mahkota untuk dipamerkan, melainkan amanah moral yang menuntut kerendahan hati.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin rendah pula hatinya. Sebab ilmu yang sejati melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan. Mereka yang merasa paling tahu justru sering kali memperlihatkan betapa sedikit yang sebenarnya mereka pahami. Arogansi hanyalah cara lain untuk mengumumkan kemiskinan batin.
Di tengah kehidupan masyarakat, setidaknya ada tiga jenis gelar yang memperoleh penghormatan luas: gelar adat, gelar akademik, dan gelar keagamaan. Ketiganya sesungguhnya bukan sekadar atribut sosial, melainkan simbol tanggung jawab. Ironisnya, tidak sedikit orang yang menganggap gelar sebagai perhiasan identitas, bukan sebagai beban etis yang harus dipertanggungjawabkan.
Karena itulah, banyak tokoh yang benar-benar matang justru enggan menempelkan seluruh gelarnya di depan atau di belakang nama. Mereka memahami bahwa kehormatan tidak lahir dari sederet huruf yang mengikuti nama seseorang, melainkan dari manfaat yang ditinggalkan bagi kehidupan orang lain.
Sebaliknya, tidak sedikit pula yang gemar memamerkan seluruh gelar yang berhasil dikumpulkannya. Nama menjadi semakin panjang, tetapi kedalaman berpikir justru semakin pendek. Gelar berubah menjadi kosmetik sosial yang dipoles untuk membangun citra, padahal substansinya kosong. Fenomena semacam ini merupakan gejala masyarakat yang mulai lebih mencintai simbol daripada makna, lebih mengagungkan kemasan daripada isi.
Keadaan itu mengingatkan kita pada telepon genggam yang setiap tahun berganti desain. Yang dibanggakan sering kali bukan kemampuan perangkat tersebut, melainkan merek dan bentuk luarnya. Padahal nilai sebuah telepon tidak ditentukan oleh kemewahan casing-nya, melainkan oleh kekuatan menangkap sinyal, kecepatan sistemnya, dan terutama kemampuan pemiliknya memanfaatkannya secara bijaksana.
Begitu pula manusia. Kualitas seseorang tidak pernah ditentukan oleh banyaknya gelar yang melekat pada namanya. Yang menentukan adalah kemampuan menghidupkan ilmu itu dalam tindakan nyata. Sebab kecanggihan tanpa kecakapan hanya akan melahirkan pertunjukan yang lucu, bahkan memalukan.
Tradisi Nusantara sesungguhnya telah lama mengajarkan kebijaksanaan yang jauh lebih halus. Dalam banyak suku bangsa, gelar bukan sesuatu yang diminta, melainkan penghormatan yang diberikan. Julukan lahir dari pengakuan komunitas, bukan dari ambisi pribadi.
Di Lampung, misalnya, dikenal sebutan seperti Daing, Batin, Kiyai, atau Minak. Gelar-gelar itu bukan sekadar identitas, melainkan bagian dari legitimasi adat yang diwariskan melalui mekanisme budaya yang penuh kehormatan. Bahkan dalam tradisi Lampung dikenal pula adek, yakni gelar keluarga yang diberikan oleh keluarga besar kepada seseorang sebagai bentuk penghormatan. Tidak ada ruang bagi seseorang untuk mengangkat dirinya sendiri. Penghormatan selalu datang dari orang lain.
Tradisi yang serupa juga hidup di berbagai penjuru Nusantara. Orang Jawa mengenal sapaan Mas, Mbak, Romo, atau Kiai. Orang Batak memiliki panggilan Ucok, Pariban, Inang Tua, dan Pak Uda. Semua lahir dari relasi sosial yang hangat, bukan dari hasrat membangun status. Sapaan-sapaan itu menjadikan hubungan antarmanusia terasa akrab, dekat, dan penuh penghormatan tanpa kehilangan kesederhanaannya.
Di situlah letak perbedaan mendasar antara budaya yang berakar pada spiritualitas dengan peradaban yang dikuasai materialisme.
Spiritualisme mengajarkan bahwa kehormatan adalah buah dari perilaku. Materialisme justru mengubah kehormatan menjadi komoditas yang bisa dibeli melalui simbol-simbol. Ketika gelar diperlakukan sebagai barang dagangan, maka nilai-nilai budaya perlahan kehilangan ruhnya.
Mungkin di sinilah kita sedang menghadapi apa yang layak disebut sebagai kemarau budaya. Sebuah musim panjang ketika etika mulai digantikan oleh pencitraan, akhlak tergeser oleh ambisi, sementara budi pekerti perlahan dikalahkan oleh hasrat mengumpulkan atribut sosial. Yang dipuja bukan lagi kebijaksanaan, melainkan popularitas. Yang dicari bukan lagi martabat, melainkan pengakuan.
Padahal para leluhur Nusantara telah mewariskan warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar simbol-simbol kebesaran. Mereka mewariskan tata krama, rasa malu, gotong royong, kebijaksanaan, serta penghormatan kepada sesama manusia. Nilai-nilai itulah yang dahulu menjadi fondasi lahirnya bangsa Indonesia.
Kini, menjelang satu abad Indonesia merdeka, pertanyaan itu kembali mengetuk kesadaran kita. Mengapa bangsa yang dibangun di atas kekayaan spiritual dan kebudayaan yang begitu luhur justru semakin mudah terpesona oleh gemerlap materialisme? Mengapa penghormatan kepada nilai bergeser menjadi perlombaan mengejar citra?
Barangkali jawabannya bukan untuk dicari di luar diri kita, melainkan di dalam batin masing-masing. Sebab kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga terbebas dari penjajahan nafsu yang menjadikan manusia lebih sibuk memperindah nama daripada memperbaiki dirinya.
Jika nilai-nilai spiritual warisan leluhur benar-benar mampu kita hidupkan kembali, Indonesia tidak sekadar menjadi negara yang besar, tetapi juga bangsa yang bermartabat. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah mengingat manusia karena gelarnya, melainkan karena kebajikan yang diwariskannya kepada kehidupan.
Banten, 29 Juli 2026
Jacob Ereste
