Gus Kikin dan Gus Niam Motivasi Santri Tambakberas: Petik Pelajaran Karakter dari Piala Dunia

Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.id — Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), bersama Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU, M. Asrorun Niam Sholeh, mengajak para santri menjadikan ajang Piala Dunia sebagai media pembelajaran karakter. Kedua tokoh tersebut menekankan pentingnya menyerap nilai kedisiplinan, kerja sama tim, dan spiritualitas dari olahraga kompetitif tersebut.

Ajakan tersebut disampaikan dalam suasana hangat menjelang acara nonton bareng (nobar) pertandingan piala dunia di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Senin (20/7/2026). Kegiatan silaturahim dan *muwajahah* ini turut dihadiri jajaran pengurus Majelis Alumni IPNU, jajaran kiai, serta para gus muda pesantren.

Pihak tuan rumah menyambut baik kehadiran para tokoh nasional dan sesepuh organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama tersebut. Perwakilan Pengasuh Ribath Al Lathifiyah 2, H Mujtahidur Ridho (Gus Edo), menyampaikan apresiasi mendalam karena para santri bisa mendapatkan wejangan langsung menjelang perhelatan akbar Muktamar NU di Tambakberas.

Dalam narasi motivasinya, Katib Syuriah PBNU M. Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa masa muda adalah periode paling krusial untuk menuntut ilmu demi meraih cita-cita. Ia mengapresiasi gigihnya semangat belajar para tokoh senior di NU yang tetap mampu merampungkan pendidikan jenjang doktor meski usia tak lagi muda.

Gus Niam kemudian memperkuat pesannya dengan mengutip syair klasik Imam Syafi’i tentang pentingnya menggembleng diri di waktu muda. Menurutnya, pemuda yang melewatkan kesempatan belajar sama saja dengan orang mati yang layak disalati takbir empat kali.

Gus Niam menekankan bahwa seluruh pintu kesuksesan, baik menjadi akademisi, pimpinan organisasi, maupun kepala daerah, hanya bisa dibuka melalui jalur belajar. Oleh karena itu, para santri diingatkan agar tidak membuang masa muda secara sia-sia di dalam pesantren.

Ia turut menganalogikan persaingan dan dinamika di NU seperti laga final Piala Dunia yang mempertemukan pemain lintas generasi. Pertemanan antara pemain senior seperti Lionel Messi dan pemain muda Lamine Yamal di luar lapangan menjadi gambaran ideal bagaimana hubungan antar-kader harus dibangun.

Meneladani perjuangan pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, Gus Niam menyebutkan bahwa kebesaran NU lahir dari kekuatan kolaborasi. Ia berpesan agar generasi muda NU terus mengedepankan kerja sama ketimbang memelihara permusuhan.

Melengkapi arahan tersebut, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengulas sisi teknis sepak bola yang sangat relevan dengan pola kehidupan di pesantren. Menurut Gus Kikin, pertandingan sepak bola menuntut kedisiplinan tinggi, keahlian individu (skill), serta kekompakan strategi (teamwork).

Gus Kikin mengaitkan keberhasilan sebuah tim sepak bola dengan pepatah Arab populer “Al-haqqu bila nidzom, yaglibuhul bathil bin nidzom”. Kebenaran atau potensi besar yang tidak dikelola secara teratur akan dengan mudah dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir rapi.

Ia mengimbau para santri meneladani kerja keras atlet muda seperti Lamine Yamal yang sanggup mengukir prestasi tingkat dunia berkat latihan konsisten sejak dini. Santri diharapkan terpacu untuk mengasah minat dan bakat mereka agar siap menjadi sosok unggul di bidangnya masing-masing.

Pengasuh Ponpes Tebuireng ini mengingatkan bahwa masa gemblengan di pesantren bertujuan membentuk kepribadian santri yang saleh dan berilmu. Bekal keagamaan yang kuat tersebut diharapkan kelak memberi dampak konkret saat santri kembali ke tengah masyarakat.

Pertemuan ini makin strategis mengingat Pesantren Tambakberas sedang bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Gus Kikin sempat mengulas rekam jejak sejarah perubahan periodisitas pelaksanaan muktamar sejak awal berdirinya organisasi pada tahun 1926.

Momentum muktamar diimbau untuk dimanfaatkan para santri dalam mengambil keberkahan ilmu dari para ulama yang hadir. Santri diminta terus menjaga sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW sebagai pegangan utama penganut Ahlussunnah wal Jamaah.

Kendati berpegang teguh pada prinsip merawat tradisi lama yang baik, Gus Kikin mengingatkan agar santri tidak bersikap tertutup terhadap modernisasi. Alumni pesantren wajib adaptif terhadap perkembangan teknologi dan inovasi zaman agar tidak tertinggal.

Gus Kikin menutup rangkaian pembekalan dengan menegaskan besarnya harapan masyarakat terhadap peran alumni pesantren. Ia menantang para santri untuk siap menjadi penggerak syiar Islam dan pemimpin yang memberi manfaat paling luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version