Bangsa yang Kehilangan Jiwa: Saat Kesadaran Spiritual Menjadi Agenda yang Tak Lagi Bisa Ditunda
Oleh: Jacob Ereste
Ada saat ketika sebuah bangsa tidak lagi kekurangan aturan, melainkan kehilangan nurani untuk menegakkannya. Tidak pula kekurangan orang pintar, tetapi miskin kebijaksanaan. Indonesia tampaknya sedang berdiri di persimpangan semacam itu.
Diskusi yang semula dirancang membahas masa depan buruh di Coffee Mas Miskun, Paseban, Jakarta Pusat, 24 Juli 2026, justru bergeser ke persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana menyelamatkan jiwa bangsa yang perlahan kehilangan orientasi moral dan spiritual.
Perubahan tema itu bukan tanpa sebab. Sebab kerusakan yang kini terlihat di berbagai bidang ternyata tidak lagi cukup dijelaskan oleh teori ekonomi, politik, ataupun hukum. Akar persoalannya jauh lebih dalam: krisis kesadaran manusia.
Seniman sekaligus budayawan Bambang Isti Nugroho mengingatkan bahwa pola perlawanan rakyat pada dekade 1980-an memiliki ruh yang berbeda dengan hari ini. Dahulu, perjuangan dibangun oleh keberanian menghadapi kekuasaan. Kini, kritik justru berhenti sebagai keluhan yang berulang-ulang diproduksi di ruang publik.
Semua orang tahu negeri ini sedang bermasalah. Semua orang mafhum bahwa hukum sering kehilangan wibawa ketika penegaknya justru dipersepsikan melanggar hukum. Publik bahkan dipertontonkan ironi yang menyakitkan: jaksa menangkap polisi, polisi menangkap jaksa. Gambaran itu bukan sekadar peristiwa hukum, melainkan cermin rapuhnya bangunan etik penyelenggara negara.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah. Pertanyaannya adalah, siapa yang masih bersedia memperbaiki keadaan?
Dalam forum itu, Adi Munardi memilih menjawab dengan sebuah kisah lama tentang Raja Namrud. Ia mengangkat cerita burung kecil yang berusaha memadamkan kobaran api hanya dengan setetes air yang dibawa menggunakan paruhnya.
Burung itu tentu sadar usahanya nyaris mustahil berhasil. Tetapi ia juga sadar bahwa menyerah adalah bentuk kekalahan sebelum perjuangan dimulai.
Di situlah makna perjuangan yang sesungguhnya. Nilai sebuah ikhtiar tidak selalu diukur dari keberhasilannya, tetapi dari keberanian untuk tetap berdiri ketika banyak orang memilih berlutut.
Manusia, kata Adi Munardi, bergerak oleh tiga pusat kesadaran. Ada yang hidup mengikuti logika kepalanya. Ada yang dikendalikan hawa nafsunya. Tetapi hanya sedikit yang bertindak berdasarkan suara hati—tempat ruh, nurani, dan kemuliaan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi menemukan maknanya.
Karena itu, menurutnya, kebangkitan bangsa tidak mungkin dimulai hanya dari pergantian pejabat atau perubahan sistem. Ia harus diawali dari revolusi batin. Kesadaran spiritual harus dibangun kembali, termasuk melalui ruang-ruang digital yang kini menjadi medan baru pembentukan opini dan kesadaran publik.
Pandangan berbeda disampaikan Anwar Esfa, yang dikenal sebagai loyalis Presiden Prabowo Subianto. Baginya, pembenahan pemerintahan tetap membutuhkan langkah konkret, termasuk kemungkinan melakukan reshuffle kabinet apabila dianggap perlu untuk mempercepat perbaikan tata kelola negara.
Namun, dukungan kepada pemerintah, menurutnya, tidak berarti menutup mata terhadap berbagai kelemahan yang masih harus dibenahi. Kritik tetap diperlukan, selama bertujuan memperkuat negara, bukan sekadar menjatuhkannya.
Di balik perbedaan sudut pandang itu, seluruh peserta diskusi sesungguhnya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: Indonesia sedang mengalami krisis etika.
Korupsi yang terus berulang, hukum yang kehilangan wibawa, politik yang miskin keteladanan, hingga pudarnya rasa malu di ruang publik bukanlah penyakit yang berdiri sendiri. Semua itu hanyalah gejala dari rapuhnya fondasi moral bangsa.
Karena itulah, pembicaraan mengenai Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang semula menjadi agenda utama mendadak terasa terlalu sempit. Sebab, sebaik apa pun regulasi dibuat, ia akan lumpuh ketika dijalankan oleh manusia yang kehilangan integritas.
Pemikiran Adi Munardi tentang “Manifesto Martabat Buruh Merebut Kembali Hari Esok yang Dijual Murah” akhirnya menemukan makna yang lebih luas. Martabat buruh bukan hanya soal upah yang layak atau perlindungan kerja, tetapi juga soal menghadirkan manusia Indonesia yang kembali memiliki harga diri, kesadaran, dan keberanian menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Bangsa ini mungkin belum kekurangan orang cerdas. Yang semakin langka justru manusia yang mau mendengar suara hati.
Dan ketika nurani mulai ditinggalkan, kehancuran tidak selalu datang dengan ledakan. Ia hadir perlahan, melalui pembiaran yang dianggap biasa, kebohongan yang terus dimaklumi, serta kekuasaan yang kehilangan rasa malu.
Mungkin benar, sebagaimana menjadi kegelisahan dalam diskusi itu, Indonesia hari ini bukan semata membutuhkan perubahan politik. Bangsa ini lebih dulu memerlukan kebangkitan spiritual—sebuah gerakan sunyi yang membangun kembali akhlak, etika, dan kesadaran sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.
Sebab negara yang kehilangan kekayaan masih dapat bangkit. Negara yang kehilangan pemimpin masih dapat memilih kembali. Tetapi bangsa yang kehilangan hati nurani hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh oleh ulahnya sendiri.
Paseban, 24 Juli 2026
