JOMBANG, TELUSUR.ID – Teka-teki mengenai tempat kelahiran Proklamator RI, Ir. Soekarno, terus menuai titik terang melalui penelusuran mendalam para pemerhati sejarah. Arif Yulianto, seorang anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, membagikan kisah panjangnya selama hampir satu dekade dalam melacak jejak Sang Putra Fajar di Ploso, Jombang.
Penelusuran ini didasarkan pada data bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Karesidenan Surabaya, pada 6 Juni 1902, yang secara administratif kini masuk wilayah Kabupaten Jombang. Langkah Arif bermula pada 2015 setelah bertemu dengan almarhum Semar Suwito, seorang peneliti sejarah Panji, dalam sebuah forum di Banjarnegara.
“Setelah kenal dengan Pak Semar, kami intens berkomunikasi. Hingga pada 2016, beliau mengajak saya ke Ndalem Pojok Wates, Kediri, yang menjadi titik awal pengenalan saya dengan situs bersejarah tersebut,” ujar sosok yang akrab disapa Cak Arif ini, Sabtu (07/03).
Kedekatan Arif dengan keluarga Ndalem Pojok Wates membuatnya mendapat kesempatan langka untuk mendalami karakter masa muda Bung Karno. Ia bahkan mengaku beberapa kali diizinkan menginap di kamar yang pernah ditempati Bung Karno remaja di Situs Persada Soekarno Kediri tersebut.
Memasuki tahun 2019, Arif yang juga berprofesi sebagai jurnalis mulai memublikasikan temuan awal mengenai keterkaitan Bung Karno dengan Ploso. Namun, ia mengakui saat itu sumber informasi masih sangat terbatas, dengan mengandalkan kesaksian dari keluarga Ndalem Pojok dan penulis buku Candradimuka, Dian Sukarno.
Semangat pelurusan sejarah ini kemudian meluas menjadi bahan diskusi serius di kalangan tokoh masyarakat dan pesantren. Pada tahun yang sama, Arif membawa narasi ini ke surau Pondok Pesantren Jatiwates Tembelang guna membedah kepingan sejarah yang tersisa di wilayah utara Brantas.
Kolaborasi strategis kemudian terjalin dengan sastrawan Binhad Nurrohmat dan keluarga Situs Persada Soekarno. Tim ini berhasil menemukan bukti fisik penting berupa makam Mbok Suwi, pengasuh masa kecil Bung Karno, serta makam Mbah Joyodipo yang merupakan sahabat kecil sang proklamator di Ploso.
Titik terang semakin benderang saat Arif menemukan foto saksi kunci kelahiran Bung Karno, yakni Kek Suro atau Mas Kiai Surosentono, di daerah Kabuh, Jombang. Temuan foto ini dianggap sebagai jawaban atas misteri lisan yang selama ini beredar di lingkungan keluarga besar Bung Karno di Kediri.
Langkah formal mulai ditempuh Arif setelah dirinya resmi bergabung dalam TACB Kabupaten Jombang. Ia mendorong agar narasi sejarah ini didaftarkan secara resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang agar dapat dikaji secara ilmiah oleh tim ahli demi mendapatkan status cagar budaya.
Kajian intensif yang dilakukan TACB Jombang pada 2024 akhirnya membuahkan hasil signifikan. Setelah melakukan validasi ke pihak keluarga di Blitar, Kediri, Bali, hingga Jakarta, tim mengeluarkan rekomendasi penetapan Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya peringkat kabupaten pada September 2024.
Upaya pelurusan sejarah ini kini telah sampai ke meja pemerintah pusat. Dokumen kajian tersebut telah diserahkan langsung kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada Desember 2025 di Surabaya, dengan harapan ada legitimasi nasional terkait tempat dan waktu kelahiran Sang Proklamator secara sistematis dan masif.



