Home Berita Dari Tebuireng Menggema! Pesan Gus Kikin Guncang Jik-Nah: Warisan KH Hasyim Asy’ari...

Dari Tebuireng Menggema! Pesan Gus Kikin Guncang Jik-Nah: Warisan KH Hasyim Asy’ari Tak Boleh Padam di Tanah Jombang

0
7 views
Pengurus Jik-Nah berfoto bersama Gus Kikin (tengah) sebagai kenang-kenangan dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H/2026 M.
Bagikan :

JOMBANG,TelusuR.ID – Di sebuah siang yang hangat di suasana Idul Fitri yang masih terasa, langkah-langkah para pengurus Jombang Ibu Kota Nahdliyin (Jik-Nah) tiba di sebuah rumah yang tak asing bagi kalangan Nahdliyin. Rumah itu milik KH Abdul Hakim Mahfudz—atau yang akrab disapa Gus Kikin—Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang.

Hari itu, Rabu (25/3/2026), bukan pertemuan formal penuh agenda. Tidak ada pembahasan berat yang dirancang sejak awal. Yang ada hanyalah niat sederhana: bersilaturahmi, saling menyapa dalam suasana syawalan.

“Beliau seperti orang tua kami,” tutur Roni pelan, mewakili rasa para pengurus Jik-Nah. “Kami hadir hanya untuk bersilaturahmi di momen Idul Fitri.”

Suasana pun mengalir hangat. Obrolan ringan bercampur dengan nilai-nilai yang tak terasa mengendap dalam. Di sela pertemuan itu, Jik-Nah menyerahkan sebuah buku berjudul Tongkat dan Tasbih, karya Abah Ihsan, sebagai tanda hormat sekaligus ikatan intelektual yang terus dijaga.

Namun, seperti biasa, dari sosok Gus Kikin, selalu ada pesan yang tak sekadar lewat. Ia mengingatkan tentang pentingnya kembali meneguhkan ajaran dan warisan pemikiran KH Hasyim Asy’ari.

Warisan itu, kata beliau, bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang persatuan. Sebuah nilai yang telah ditanamkan jauh sebelum bangsa ini merdeka. Roni pun mengisahkan kembali pesan itu—bahwa puluhan ribu santri dahulu bergerak membawa semangat yang sama: merawat keutuhan umat dan bangsa.

“Ini yang harus terus dihidupkan,” ujarnya, seakan menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar cerita, melainkan arah.

Di sudut lain, Ketua Jik-Nah Kabupaten Jombang, Ustadz H. Muhtazuddin, tak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, momen seperti ini bukan hal yang datang setiap waktu.

“Jarang sekali kami bisa bertemu langsung. Maka Idul Fitri ini menjadi kesempatan yang sangat berharga,” ungkapnya dengan nada tulus.

Ia datang bersama Sekretaris Ratno Hadi Siswanto dan Widodo dari Forum Lintas Media. Meski pertemuan berlangsung singkat, percakapan yang terjalin terasa padat makna. Mereka berbincang tentang Jombang—tentang wajahnya hari ini, dan tentang jati dirinya yang tak boleh pudar.

Nama-nama besar pun kembali disebut, seolah dihadirkan dalam ruang ingatan bersama: Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Asy’ari, hingga KH Wahab Hasbullah. Mereka bukan sekadar tokoh, melainkan penanda bahwa Jombang adalah ruang lahirnya sejarah besar Nahdlatul Ulama.

Dari sanalah muncul satu kesadaran yang menguat: bahwa Jombang sebagai “Ibu Kota Nahdliyin” bukan sekadar sebutan, tetapi amanah budaya dan sejarah yang harus dijaga.

“Sejarah besar ini jangan sampai hilang,” ucap Muhtazuddin, mengingatkan. “Generasi muda harus mengenal para muassis NU.”

Pertemuan itu pun ditutup dengan sederhana, namun penuh kesan. Sebuah cinderamata berupa buku profil KH Hasyim Asy’ari diberikan oleh Gus Kikin—seakan menjadi simbol bahwa warisan itu memang untuk diteruskan, dari generasi ke generasi.(Gus)

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan